Singkat
saja, pernah aku bertanya kepada teman yang masih menganggap mantan nya itu
adalah benar – benar the only one for him. Tapi yang bikin
heran itu sekarang dia dekat dengan seseorang namun tak pernah ada di hatinya. Menurut
analisis aku, dia ini menerapkan sistem the only one for me terlalu
mendalam. Jelas saja dia sulit move – one. Dan yang menjadi korbannya adalah
satu makhluk Tuhan yang masih sulit move on gara – gara sistem percintaan nya
dan satu lagi imbas karena tidak jelasnya suatu hubungan.
“Kayaknya dia bukan The One-nya aku deh”, ini mungkin kata mereka yang hendak putus
dari pasangannya.
“Dan sekarang saatnya dalam
proses mencari The One-nya aku”, kata
mereka yang jomblo single dan (mengaku) bahagia sebagai topeng yang
menemaninya melalui hari-hari tanpa seorang kekasih di sisinya.
The
One kerap kali dijadikan alasan seseorang untuk berdrama ria dalam
kehidupan percintaan. Sekaligus mempersulit hidup mereka sendiri. Bagaimana tidak?
Contoh saja, susah move on gara – gara pacaran 8 tahun terus putus sampai
sekarang masih saja berharap the one, the one.
“The
One” begitu aku menyebutnya adalah konsep yang begitu hebat
dikembangkan oleh berbagai media untuk membuat diri kalian semakin dan terus mencari-cari
siapa belahan jiwa kalian sebenarnya.
Seseorang
yang masih menganggap The One in mungkin akan dipenuhi dengan pertanyaan
seperti,
“Di mana sih The One-nya
aku berada sekarang?”,
”Kapan sih The One-nya aku
tiba? Udah capek nyari dan nungguin nih”, “Siapa sih yang akan jadi The One-nya
aku?”.
Dengan
berpikir demikian, proses pencarian pasangan hidup nampak menjadi sebuah
perjalanan panjang yang melelahkan dan takut salah. Karena cuma ada satu, jika
salah maka kalian akan kehilangan selamanya.
Konsep
Finding
The One hanyalah sebuah konspirasi. Yang benar adalah siapapun
bisa jadi The One-nya kaliam. Caranya adalah dengan menerima kekurangan
pasangan kalian satu paket dengan kelebihannya dan tidak membanding-bandingkan
pasangan kalian dengan yang lain atau yang sudah - sudah. Membanding –
bandingkan tidak akan ada habisnya. Semakin kalian membandingkan, semakin kalian
akan menemukan yang lebih baik. Rumput tetangga akan selalu lebih hijau. Orang
lain akan selalu terlihat lebih baik dari pasangan kalian, sampai akhirnya kalian
itu berhubungan dengannya.
Relationship
akan lebih tenang dan bahagia saat kalian berhenti mempertanyakan apakah dia The
One-nya kalian atau bukan. Dan akan lebih berbahaya lagi jika di
tengah proses pencarian The One tersebut, akhirnya kalian menemukan sosok yang
mendekati idaman kalian. Dan kalian bisa saja terjatuh ke dalam “She/He
is The One Syndrome”.
Kenyataanya
The One atau tidaknya seseorang baru bisa kalian temukan jika dia adalah orang
terakhir yang akan berada di sisi kalian di saat masa-masa terakhir hidup
kalian, bukan pada pandangan pertama, bukan juga di puncak ataupun lembah
hubungan kalian.
Cinta
sejati bukan tentang menemukan The One, tetapi bagaimana kalian berhasil
melatih keterikatan batin yang kuat dan kerjasama yang tangguh di saat suka
maupun sulit bersama pasangan kalian.
Pernah
kalian berpikir seperti itu? Sharing yuk...
#a
r t b l o g
#inspired
by ZekeAndThePopo.

ada konspirasi hati ya mbak... :D
BalasHapussepertinya. hahaaah
HapusKorban vickynisasi kayaknya..
BalasHapussiapa nih?
Hapuswahh mbak tulisanmu keren abis mbak :D baguss :D
BalasHapusaaaaaaaaaaaaak makasih
Hapus