31 Maret, 2014

Konsep The One -


Singkat saja, pernah aku bertanya kepada teman yang masih menganggap mantan nya itu adalah benar – benar the only one for him. Tapi yang bikin heran itu sekarang dia dekat dengan seseorang namun tak pernah ada di hatinya. Menurut analisis aku, dia ini menerapkan sistem the only one for me terlalu mendalam. Jelas saja dia sulit move – one. Dan yang menjadi korbannya adalah satu makhluk Tuhan yang masih sulit move on gara – gara sistem percintaan nya dan satu lagi imbas karena tidak jelasnya suatu hubungan.  

Kayaknya dia bukan The One-nya aku deh”, ini mungkin kata mereka yang hendak putus dari pasangannya.
“Dan sekarang saatnya dalam proses mencari The One-nya aku”, kata mereka yang jomblo single dan (mengaku) bahagia sebagai topeng yang menemaninya melalui hari-hari tanpa seorang kekasih di sisinya.
The One kerap kali dijadikan alasan seseorang untuk berdrama ria dalam kehidupan percintaan. Sekaligus mempersulit hidup mereka sendiri. Bagaimana tidak? Contoh saja, susah move on gara – gara pacaran 8 tahun terus putus sampai sekarang masih saja berharap the one, the one.
The One” begitu aku menyebutnya adalah konsep yang begitu hebat dikembangkan oleh berbagai media untuk membuat diri kalian semakin dan terus mencari-cari siapa belahan jiwa kalian sebenarnya.
Seseorang yang masih menganggap The One in mungkin akan dipenuhi dengan pertanyaan seperti,
“Di mana sih The One-nya aku berada sekarang?”,
”Kapan sih The One-nya aku tiba? Udah capek nyari dan nungguin nih”, “Siapa sih yang akan jadi The One-nya aku?”.
Dengan berpikir demikian, proses pencarian pasangan hidup nampak menjadi sebuah perjalanan panjang yang melelahkan dan takut salah. Karena cuma ada satu, jika salah maka kalian akan kehilangan selamanya.
Konsep Finding The One hanyalah sebuah konspirasi. Yang benar adalah siapapun bisa jadi The One-nya kaliam. Caranya adalah dengan menerima kekurangan pasangan kalian satu paket dengan kelebihannya dan tidak membanding-bandingkan pasangan kalian dengan yang lain atau yang sudah - sudah. Membanding – bandingkan tidak akan ada habisnya. Semakin kalian membandingkan, semakin kalian akan menemukan yang lebih baik. Rumput tetangga akan selalu lebih hijau. Orang lain akan selalu terlihat lebih baik dari pasangan kalian, sampai akhirnya kalian itu berhubungan dengannya.
Relationship akan lebih tenang dan bahagia saat kalian berhenti mempertanyakan apakah dia The One-nya kalian atau bukan. Dan akan lebih berbahaya lagi jika di tengah proses pencarian The One tersebut, akhirnya kalian menemukan sosok yang mendekati idaman kalian. Dan kalian bisa saja terjatuh ke dalam “She/He is The One Syndrome”.
Kenyataanya The One atau tidaknya seseorang baru bisa kalian temukan jika dia adalah orang terakhir yang akan berada di sisi kalian di saat masa-masa terakhir hidup kalian, bukan pada pandangan pertama, bukan juga di puncak ataupun lembah hubungan kalian.
Cinta sejati bukan tentang menemukan The One, tetapi bagaimana kalian berhasil melatih keterikatan batin yang kuat dan kerjasama yang tangguh di saat suka maupun sulit bersama pasangan kalian.
Pernah kalian berpikir seperti itu? Sharing yuk...
#a r t b l o g
#inspired by ZekeAndThePopo. 

6 komentar: