08 Maret, 2014

Senyum Terakhir - Bagian Akhir


Beberapa bulan kemudian..
Cinta sepertinya begitu rumit, hubunganku dengan kekasihku saat ini berakhir begitu saja. Aku menjalani kehidupan yang seperti dulu kala, berjalan sendiri tanpa ada seseorang yang menemani dan tanpa ada seseorang yang memperhatikan diriku. 

Dan ketika aku sendiri, menjalani hidup seperti biasanya. Dan pada suatu ketika aku tidak sengaja bertemu Dinda di jalan. Dan kami pun ngobrol sejenak untuk melepas rasa yang sudah tidak lama kami rasakan seperti dahulu. Sayangnya dia sekarang sudah mempunyai kekasih, tapi kita menjalin hubungan kembali dan lupa akan janiji kita dulu untuk tidak saling berhubungan. Hatiku pedih rasanya mendengar dia sudah mempunyai seorang kekasih. Kenapa wanita sebaik itu dulu aku tinggalkan? Perasaan sesal tak ada guna.
Dan setelah hari itu, kami sering SMS-an bahkan tak jarang kami telponan hanya sekedar untuk bertanya kabar. Namun aku tahu, itu tidak baik untuk  mengganggu hubungan dia dengan kekasihnya saat itu.
Jadi dari hari ke hari, Dinda selalu bercerita banyak hal tentang apa yang terjadi dalam hidup dan kisah percintaan-nya, aku cuma bisa menjadi pendengar yang baik bagaikan seorang saudara. Dan sampai pada suatu saat ketika dia meneleponku tengah malam...

“bisa gak sih kita kembali seperti dahulu, sebagai pasangan kekasih, bukan seperti saat ini. Seperti ada jarak diantara kita yang bikin kita tidak bisa seperti dulu..”(dinda)

“keadaan kita berbeda dinda.. kamu sudah ada yang punya.. aku tidak bisa.. seperti saat ini saja aku sudah bahagia kok.. “ (aku)

“aku enggak.. aku enggak bahagia.. “ (dinda)
“kamu harus bahagia.. kamu pasti bisa.., aku selalu mendoakan kebahagian kamu “

“ kamu tahu aku tidak bahagia, terus kenapa kamu mendoakan aku agar aku bahagia”
“terdiam....”

Aku tidak enak hati dan perasaan, melihat dia tidak bahagia bersama pasangannya aku bisa apa. Tidak mungkin aku bilang terhadap kekasihnya agar membuat dia bahagia, yang bisa aku lakukan hanya mendoakan kebaikan untuknya serta aku menghindar sejenak dari kehidupannya..
 Hingga tiba dia berulang tahun. Aku sempatkan waktu untuk memberinya ucapan ulang tahun melalui telepon

“ selamat ulang tahun, Dinda. Semoga kebaikan dan keselamatan dilimpahkan padamu “ kataku.
*suara isakan tangis yang terdengar

“ kamu kenapa nangis hey, ini ulang tahun kamu. Make a wish dong “ kataku lagi.

“Enggak kok.. Cuma senang aja dikasih Tuhan umur yang panjang sampai bisa ngerayain ulang tahun “ kata Dinda
“ kalau gitu make a wish dong..?” kataku.

“ Aku mau make a wish sama kamu boleh?” dinda
“lhah kok sama aku din, sama Tuhan dong? Tapi yauda gapapa.. ngomong aja..”

“ aku mau bilang sama kamu, kalau ini ulang tahun aku yang paling sedih dan juga senang “ sedih karena aku tak bersamamu, juga aku senang akhirnya aku bahagia dengan kesendirian lagi “ dinda

“ kamu senang kalau kamu putus “? “aku

Iya..juga aku kalau ini uda jadi saat terakhir aku merayakan ulang tahun aku, aku mau kamu tau. Kalau aku bahagia sekali bisa mengenal kamu “

Kok kamu bicara seperti itu? Kataku..

“iya, karena aku telah lama mengenalmu dan hanya kamu satu – satunya orang yang tahu semua tentang diriku dan tidak semua teman, saudara mengerti aku “

Iya, aku mengerti. Sudah dong jangan sedih lagi. Ulang tahun kok malah sedih begini sih, senyum dong. Kan manis kalo kamu senyum. Nah, sekarang kamu mau kado dari aku apa?

“ Besok kamu main kerumah ya.. aku lagi engga ada kerjaan. Jadi tolong ya besok kamu pagi pagi sekali kerumah aku “

Baiklah.. aku akan kesana seperti yang kamu minta” kataku dengan senang hati.

aku heran kenapa dia mendadak seperti ini disisi lain aku juga senang karena dia telah putus dari kekasihnya, namun aku tidak terburu – buru untuk menyatakan perasaan ini lagi. Karena dengan keadaan yang serba tidak karuan seperti ini justru malah membuatku salah tingkah. Dan aku senang ketika dia memintaku untuk kerumahnya. Anehnya, dia memintaku untuk datang pagi – pagi dan biasanya dia bekerja pada pagi hari, entahlah mungkin dia bergantian jam dengan temannya.
Keesokan harinya..
Aku belum sempat memberikan kado untuknya, maka aku berniat untuk mengasih sesuatu yang romantis. Karena aku ini tipe lelaki yang sangat tidak romantis, terselip niatku untuk mengajak balikan dengannya, maka ini mungkin saat yang tepat untuk aku berbicara dengannya. Sedikit cerita, dahulu ketika aku bermain kerumahnya, ibu dan bapak nya sudah menganggap aku sebagi anaknya sendiri, jadi aku merasa mempunyai ikatan batin yang kuat terhadap keluarga Dinda dan aku sangat bahagia mengenal mereka semua.
Setelah kupikir – pikir, bunga mawar merah adalah kado juga simbol yang tepat untuk mengutarakan niatku. Baru kali ini aku mencoba menjadi lelaki yang romantis, dengan sedikit canggung aku membeli nya, lalu bergeas aku menuju kerumahnya.
Sesampainya...
Aku mengetuk pintu dan ternyata Dinda sendiri yang membukakan pintu untukku, lalu aku duduk. Anehnya.. aku melihat sosok Dinda yang seperti bukannya dirinya, entahlah aku merasa ada yang berbeda darinya. Mungkin dia masih merasa sedih atas percakapan semalam, pikirku.

“ hei, kamu kenapa diam saja? Nyuruh aku main, kok didiamin? “

“ engga apa apa kok, aku senang banget hari ini kamu mau main kerumah “ kata dinda dengan tatapan sayu,

“lho, seneng kok begitu sih mukanya, senyum dong din “
*senyum

Tapi aku sangat merasa aneh, ketika senyum itu dia menampakkan aura yang sangat berbeda dari biasanya. Tatapan mata nya kosong, sayu dan terlihat lemas sekali.

“ kamu sakit ya?”

“ engga kok, aku sehat”

“ aku boleh ngomong sesuatu?”

Langsung saja aku mengambil bunga yang tadi aku beli, dan mengutarakan niat ku kesini untuk mengajaknya menjalin hubungan yang telah lama untuk bersatu kembali. Dengan maksud untuk mencairkan suasana, dan berharap dia senang kalau aku memintanya untuk berpacaran lagi denganku.

“ jadi, setelah tau kalau kamu sudah memutus hubungan dengan kekasih mu itu dan tahu kalo kita sudah sama – sama sendiri, menurut kamu kalau kita balikan, bagaimana? “ kataku..sambil mengasih bunga mawar tadi.

“ kasih aku waktu untuk berpikir, aku takut banget kalo suatu saat nanti aku tidak bisa membahagiakan-mu” dinda

“ bukankah kamu bilang, kamu ingin bersamaku, aku sangat ingin bersamamu din”

“ tapi, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku takut mengecewakanmu “ #sedikit terisak
Aku tidak tahu mulai kapan, dia memegang tanganku dengan erat sekali. Dan baru aku sadari sekarang, ini tidak biasanya dia memegang erat tanganku. Seperti yang tidak mau kehilangan begitu. Aku biarkan saja.
Aku mulai mencairkan suasana..

“ yaudah, sampai kapanpun aku akan nunggu kamu ko din “ aku sayang sama kamu dinda.

Waktu menunjukkan 12.00 wib, aku lekas pulang. Di detik – detik kepergianku, dia mengatakan sesuatu padaku “ mas, janji ya jangan pernah lupakan aku dalam hidup kamu ”. senyum simpul terpasang dibibir, tanpa mengetahui apa maksud dan arti perkataan tadi. Entahlah namun percakapan hari ini membuatku agak merasa aneh dengan sikap – sikapnya.
Dan... pada malam harinya. Aku mendapati sebuah telepon dari Dinda,

“ halo din, ada apa? Telpon kok malem2 begini “

“ halo mas, ini bapaknya Dinda “ *dengan nada sedikit lirih

“maaf pak, ada apa ya pak ”

“ ini Dinda sudah tiada “

*terdiam tanpa mengerti apa maksudnya.

“ maksud bapak?”

“ nak Dinda sudah meninggal dunia tadi pukul 21.49 wib ”
*lemas mendengar hal itu..hati ini pedih, Aku tidak percaya, baru saja aku dari rumahnya dan banyak ngobrol dengannya.
Aku melayat kerumahnya, aku tidak sanggup jika aku mendekati jenazahnya, aku lelaki tapi aku kehilangan sosok seorang wanita yang sangat aku cintai. Betapa rapuh aku kala itu, ingin rasanya aku teriak dan meminta pada Tuhan untuk mengembalikanmu. Namun, aku tak dapat menghindari takdir Tuhan. Dinda dibawa kerumah sakit pada sore hari dan pada malam harinya dia sudah dinyantakan meninggal dunia, dinda berpesan kepada ayah dan ibunya untuk tidak mengasih kabar tentang dia dan apa yang menyebabkan dia meninggal. Sampai – sampai aku memohon – mohon pada ayahnya untuk mengasih tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun tidak pernah aku ketahui apa itu.
Jadi kata – kata terakhir tadi siang itu sudah menjadi firasat bagiku, aku melihat dengan sikap yang tak sewajarnya dia lakukan, tatapan mata yang kosong serta tiada lagi kini senyuman itu. Dinda, Aku tidak akan pernah lupa untuk selalu mendoakan mu dari sini..

Selamat Tinggal Dinda...
Beristirahatlah dengan Tenang...
Terima kasih atas senyum terindahmu karena dengan itulah aku mengerti bahwa tak ada yang lebih baik dari hidup selain saat-saat aku mengenal dan mencintaimu..

Kini engkau telah pergi dengan senyum terakhir-mu...

4 komentar: