Beberapa bulan kemudian..
Cinta sepertinya begitu rumit, hubunganku dengan kekasihku
saat ini berakhir begitu saja. Aku menjalani kehidupan yang seperti dulu kala,
berjalan sendiri tanpa ada seseorang yang menemani dan tanpa ada seseorang yang
memperhatikan diriku.
Dan ketika aku sendiri, menjalani hidup seperti biasanya. Dan pada suatu ketika aku tidak sengaja bertemu Dinda di jalan. Dan kami pun ngobrol sejenak untuk melepas rasa yang sudah tidak lama kami rasakan seperti dahulu. Sayangnya dia sekarang sudah mempunyai kekasih, tapi kita menjalin hubungan kembali dan lupa akan janiji kita dulu untuk tidak saling berhubungan. Hatiku pedih rasanya mendengar dia sudah mempunyai seorang kekasih. Kenapa wanita sebaik itu dulu aku tinggalkan? Perasaan sesal tak ada guna.
Dan ketika aku sendiri, menjalani hidup seperti biasanya. Dan pada suatu ketika aku tidak sengaja bertemu Dinda di jalan. Dan kami pun ngobrol sejenak untuk melepas rasa yang sudah tidak lama kami rasakan seperti dahulu. Sayangnya dia sekarang sudah mempunyai kekasih, tapi kita menjalin hubungan kembali dan lupa akan janiji kita dulu untuk tidak saling berhubungan. Hatiku pedih rasanya mendengar dia sudah mempunyai seorang kekasih. Kenapa wanita sebaik itu dulu aku tinggalkan? Perasaan sesal tak ada guna.
Dan setelah hari itu, kami sering SMS-an bahkan tak jarang
kami telponan hanya sekedar untuk bertanya kabar. Namun aku tahu, itu tidak
baik untuk mengganggu hubungan dia dengan
kekasihnya saat itu.
Jadi dari hari ke hari, Dinda selalu bercerita banyak hal
tentang apa yang terjadi dalam hidup dan kisah percintaan-nya, aku cuma bisa menjadi
pendengar yang baik bagaikan seorang saudara. Dan sampai pada suatu saat ketika
dia meneleponku tengah malam...
“bisa gak
sih kita kembali seperti dahulu, sebagai pasangan kekasih, bukan seperti saat
ini. Seperti ada jarak diantara kita yang bikin kita tidak bisa seperti dulu..”(dinda)
“keadaan kita berbeda
dinda.. kamu sudah ada yang punya.. aku tidak bisa.. seperti saat ini saja aku
sudah bahagia kok.. “ (aku)
“aku
enggak.. aku enggak bahagia.. “ (dinda)
“kamu harus bahagia.. kamu
pasti bisa.., aku selalu mendoakan kebahagian kamu “
“ kamu tahu aku tidak bahagia, terus kenapa kamu
mendoakan aku agar aku bahagia”
“terdiam....”
Aku tidak enak hati dan perasaan, melihat dia tidak bahagia
bersama pasangannya aku bisa apa. Tidak mungkin aku bilang terhadap kekasihnya
agar membuat dia bahagia, yang bisa aku lakukan hanya mendoakan kebaikan untuknya
serta aku menghindar sejenak dari kehidupannya..
Hingga tiba dia
berulang tahun. Aku sempatkan waktu untuk memberinya ucapan ulang tahun melalui
telepon
“ selamat ulang tahun,
Dinda. Semoga kebaikan dan keselamatan dilimpahkan padamu “ kataku.
*suara isakan tangis yang terdengar
“ kamu kenapa nangis hey,
ini ulang tahun kamu. Make a wish dong “ kataku lagi.
“Enggak
kok.. Cuma senang aja dikasih Tuhan umur yang panjang sampai bisa ngerayain
ulang tahun “ kata Dinda
“ kalau gitu make a wish
dong..?” kataku.
“ Aku mau
make a wish sama kamu boleh?” dinda
“lhah kok sama aku din,
sama Tuhan dong? Tapi yauda gapapa.. ngomong aja..”
“ aku mau
bilang sama kamu, kalau ini ulang tahun aku yang paling sedih dan juga senang “
sedih karena aku tak bersamamu, juga aku senang akhirnya aku bahagia dengan
kesendirian lagi “ dinda
“ kamu senang kalau kamu
putus “? “aku
Iya..juga
aku kalau ini uda jadi saat terakhir aku merayakan ulang tahun aku, aku mau
kamu tau. Kalau aku bahagia sekali bisa mengenal kamu “
Kok kamu bicara seperti
itu? Kataku..
“iya, karena
aku telah lama mengenalmu dan hanya kamu satu – satunya orang yang tahu semua
tentang diriku dan tidak semua teman, saudara mengerti aku “
Iya, aku mengerti. Sudah dong
jangan sedih lagi. Ulang tahun kok malah sedih begini sih, senyum dong. Kan
manis kalo kamu senyum. Nah, sekarang kamu mau kado dari aku apa?
“ Besok kamu
main kerumah ya.. aku lagi engga ada kerjaan. Jadi tolong ya besok kamu pagi
pagi sekali kerumah aku “
Baiklah.. aku akan kesana
seperti yang kamu minta” kataku dengan senang hati.
aku heran kenapa dia mendadak seperti ini disisi lain aku juga
senang karena dia telah putus dari kekasihnya, namun aku tidak terburu – buru untuk
menyatakan perasaan ini lagi. Karena dengan keadaan yang serba tidak karuan
seperti ini justru malah membuatku salah tingkah. Dan aku senang ketika dia
memintaku untuk kerumahnya. Anehnya, dia memintaku untuk datang pagi – pagi dan
biasanya dia bekerja pada pagi hari, entahlah mungkin dia bergantian jam dengan
temannya.
Keesokan harinya..
Aku belum sempat memberikan kado untuknya, maka aku berniat
untuk mengasih sesuatu yang romantis. Karena aku ini tipe lelaki yang sangat
tidak romantis, terselip niatku untuk mengajak balikan dengannya, maka ini
mungkin saat yang tepat untuk aku berbicara dengannya. Sedikit cerita, dahulu
ketika aku bermain kerumahnya, ibu dan bapak nya sudah menganggap aku sebagi
anaknya sendiri, jadi aku merasa mempunyai ikatan batin yang kuat terhadap
keluarga Dinda dan aku sangat bahagia mengenal mereka semua.
Setelah kupikir – pikir, bunga mawar merah adalah kado juga
simbol yang tepat untuk mengutarakan niatku. Baru kali ini aku mencoba menjadi
lelaki yang romantis, dengan sedikit canggung aku membeli nya, lalu bergeas aku
menuju kerumahnya.
Sesampainya...
Aku mengetuk pintu dan ternyata Dinda sendiri yang membukakan
pintu untukku, lalu aku duduk. Anehnya.. aku melihat sosok Dinda yang seperti
bukannya dirinya, entahlah aku merasa ada yang berbeda darinya. Mungkin dia
masih merasa sedih atas percakapan semalam, pikirku.
“ hei, kamu kenapa diam
saja? Nyuruh aku main, kok didiamin? “
“ engga apa apa kok, aku senang banget hari ini
kamu mau main kerumah “ kata dinda dengan tatapan sayu,
“lho, seneng kok begitu
sih mukanya, senyum dong din “
*senyum
Tapi aku sangat merasa aneh, ketika senyum itu dia menampakkan
aura yang sangat berbeda dari biasanya. Tatapan mata nya kosong, sayu dan
terlihat lemas sekali.
“ kamu sakit ya?”
“ engga kok,
aku sehat”
“ aku boleh ngomong sesuatu?”
Langsung saja aku mengambil bunga yang tadi aku beli, dan
mengutarakan niat ku kesini untuk mengajaknya menjalin hubungan yang telah lama
untuk bersatu kembali. Dengan maksud untuk mencairkan suasana, dan berharap dia
senang kalau aku memintanya untuk berpacaran lagi denganku.
“ jadi, setelah tau kalau kamu sudah memutus hubungan dengan
kekasih mu itu dan tahu kalo kita sudah sama – sama sendiri, menurut kamu kalau
kita balikan, bagaimana? “ kataku..sambil mengasih bunga mawar tadi.
“ kasih aku waktu untuk berpikir, aku takut banget kalo suatu
saat nanti aku tidak bisa membahagiakan-mu” dinda
“ bukankah kamu bilang, kamu ingin bersamaku, aku sangat ingin
bersamamu din”
“ tapi, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku takut
mengecewakanmu “ #sedikit terisak
Aku tidak tahu mulai kapan, dia memegang tanganku dengan erat
sekali. Dan baru aku sadari sekarang, ini tidak biasanya dia memegang erat
tanganku. Seperti yang tidak mau kehilangan begitu. Aku biarkan saja.
Aku mulai mencairkan suasana..
“ yaudah, sampai kapanpun
aku akan nunggu kamu ko din “ aku sayang sama kamu dinda.
Waktu menunjukkan 12.00 wib, aku lekas pulang. Di detik –
detik kepergianku, dia mengatakan sesuatu padaku “ mas, janji ya jangan pernah lupakan aku dalam hidup kamu ”. senyum
simpul terpasang dibibir, tanpa mengetahui apa maksud dan arti perkataan tadi. Entahlah
namun percakapan hari ini membuatku agak merasa aneh dengan sikap – sikapnya.
Dan... pada malam harinya. Aku mendapati sebuah telepon dari
Dinda,
“ halo din, ada apa? Telpon kok malem2 begini “
“ halo mas, ini bapaknya Dinda “ *dengan nada sedikit
lirih
“maaf pak, ada apa ya pak ”
“ ini Dinda sudah tiada “
*terdiam tanpa mengerti apa maksudnya.
“ maksud bapak?”
“ nak Dinda sudah meninggal dunia tadi pukul 21.49 wib ”
*lemas mendengar hal itu..hati ini pedih, Aku tidak percaya,
baru saja aku dari rumahnya dan banyak ngobrol dengannya.
Aku melayat kerumahnya, aku tidak sanggup jika aku mendekati
jenazahnya, aku lelaki tapi aku kehilangan sosok seorang wanita yang sangat aku
cintai. Betapa rapuh aku kala itu, ingin rasanya aku teriak dan meminta pada
Tuhan untuk mengembalikanmu. Namun, aku tak dapat menghindari takdir Tuhan. Dinda
dibawa kerumah sakit pada sore hari dan pada malam harinya dia sudah
dinyantakan meninggal dunia, dinda berpesan kepada ayah dan ibunya untuk tidak
mengasih kabar tentang dia dan apa yang menyebabkan dia meninggal. Sampai –
sampai aku memohon – mohon pada ayahnya untuk mengasih tahu apa yang sebenarnya
terjadi, namun tidak pernah aku ketahui apa itu.
Jadi kata – kata terakhir tadi siang itu sudah menjadi firasat
bagiku, aku melihat dengan sikap yang tak sewajarnya dia lakukan, tatapan mata
yang kosong serta tiada lagi kini senyuman itu. Dinda, Aku tidak akan pernah lupa
untuk selalu mendoakan mu dari sini..
Selamat Tinggal Dinda...
Beristirahatlah dengan Tenang...
Terima kasih atas senyum terindahmu karena dengan itulah aku
mengerti bahwa tak ada yang lebih baik dari hidup selain saat-saat aku mengenal
dan mencintaimu..
Kini engkau telah pergi dengan senyum terakhir-mu...

yaaahhhhh sad ending :(
BalasHapusiyaaa. sad emang..
Hapuscerita ini mengingatkanku pada sesorang
BalasHapusoya? bagaimana endingnya?
Hapus