07 Maret, 2014

- Senyum Terakhir-nya Bagian - 2 -


Setelah kami jadian, Dinda mendapat kabar bahwa dia adalah karyawan terbaik. Sontak saja aku langsung memberi selamat terhadapnya. Namun, disisi lain perkerjaan yang dijalani haruslah lebih padat lagi. Yah, intensitas untuk kami bertemu pun sedikit berkurang karena kesibukan masing – masing. 

Aku sibuk dengan organisasi, kuliah serta pekerjaan, begitu pula dengan Dinda yang sibuk akan pekerjaannya. Tapi aku menjalani semua ini dengan suka cita sebagai kekasih. Walau hanya bisa bertemu sekali dalam seminggu atau dua kali.
Seperti sebuah kisah cinta, tidak semuanya  selalu indah dan baik-baik saja. Kita juga terkadang mengalami keributan kecil dan semua baik-baik saja sampai akhirnya suatu ketika kami terlalu jauh dalam keributan dan putus nyambung akhirnya putus untuk waktu yang lama. Tapi kita sama-sama sadar, bahwa kita saling mencintai dan akhirnya berpisah untuk mencoba introspeksi agar mengerti arti kita di hati masing-masing. Aku fokus pada kuliah, begitu pula dengan Dinda yang sibuk dengan pekerjaannya. Dan tanpa sadar kami berpisah oleh waktu. Dalam kesendirian itu, aku jatuh cinta sama seseorang dan menjalin hubungan.
Dinda pun mendengar kabar bahwa aku telah menjalin hubungan dengan seseorang, dia mengucapkan “ selamat ya, semoga langgeng “. Aku tahu bahwa hatinya rapuh dan sakit yang teramat sangat. 
Maka dari itu aku mulai untuk tidak berkomunikaasi dengannya, agar ia tak merasa sakit bila terus saja berhubungan dengan-ku. Namun, beberapa minggu demikian diam – diam kami bertemu dalam suatu tempat yang dulu menjadi favorit kami, tapi apa daya sekarang tempat itu sudah tidak ada apa – apa nya lagi.
Perasaan canggung pun menghinggapi kami, saling diam tak menyapa. Hingga akhirnya...
“ kalau kita jodoh, kita ngga akan kemana – mana kok. Dengan siapapun kamu berpacaran, kalau jodohnya aku juga ga akan kemana – mana “ ucap Dinda..
“ jadi, aku harus gimana? ” ucap-ku
“ ga gimana – gimana kok, kamu percaya aja kalo kita berjodoh kita ga akan kemana – mana “ “ kamu hapus nomor aku, hapus semua tentang aku. Berdoa saja supaya kita berjodoh, karena aku sayang sama kamu “ kata Dinda..
*dengan nada sedikit terisak dan mata berkaca – kaca (dinda)
aku hanya tersenyum simpul mendengar itu, walaupun hati ini terasa ingin menolaknya namun aku sangat menghargai keputusan yang telah di buatnya ini. Aku tahu maksud dari semua ini, agar aku bisa lebih lepas dalam menjalin hubunganku dengan kekasihku yang sekarang ini, juga aku mengerti dia tidak akan mengingat tentang diriku dan kenangan manis lainnya yang merasa sakit bila dia masih saja dekat denganku. Akhirnya kami memutuskan hal terakhir yang bisa membuat kami saling kontak, Selanjutnya aku serahkan kepada Tuhan. Karena sebenarnya aku dan dia masih saling sayang akan tetapi keadaan membuat kita tidak dapat bersama kembali..

To Be Continue..

#art

2 komentar:

  1. Yah kok putus nyambung -_- *lanjutannya gimana ya?* Dinda jadi nikah nggak sama bejo? Eh maksudnya charly? -_-

    BalasHapus